GREEN CITY
pemanasan global atau global warming menyeruak dan kemudian memuncak menjadi kecemasan masyarakat internasional, maka dunia pun ramai-ramai mencari solusi untuk menahan laju pemanasan yang terjadi yaitu membuat GREEN CITY . Green city tidaklah bermakna bahwa kita berupaya membuat seluruh kota menjadi hijau dengan cara menanam pohon sebanyak mungkin. Konsep green city adalah bagaimana membangun sebuah harmonisasi dalam kehidupan perkotaan. Itu bisa berupa terwujudnya keseimbangan antara kebutuhan sosial-ekonomis dengan kebutuhan ekologis dengan Membangun sebuah RTH (Ruang Terbuka Hijau), RTH tidak identik dengan membangun taman, walaupun taman memang termasuk ruang publik (open space) yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat perkotaan, termasuk di Parepare. Taman dengan sendirinya bertumpu penuh pada aspek estetika, sedangkan RTH ditujukan untuk kepentingan terciptanya keseimbangan ekologis .Sebuah taman, komponen penyusunnya dapat berupa apa saja, yang penting tujuannya berupa “keindahan” dapat tercapai RTH tidak hanya harus di darat, tapi juga di laut. seperti
1. Hutan Kota Jompie, luas sekitar 15 hektar, dengan fungsi utama sekarang sebagai Kebun Raya (Botanical Garden), yang akan menampung sebanyak mungkin species tumbuhan dari bioregion Wallacea – untuk konservasi, pendidikan, wisata, dan sebagai bank plasma.
2. Hutan Alitta, sekitar 90 hektar, dengan fungsi utama sebagai Taman Hutan Raya (Grand Forest Park), yang akan menampung species tumbuhan lokal, spesifik, dan sangat penting sebagaicatchment area – juga untuk pendidikan, wisata, dan budi daya.
3. Hutan Bilalang dan Gua Tompangnge, seluas sekitar 200 hektar, dengan fungsi utama sebagai Hutan Konservasi Plasma Nutfah (Biodiverity Conservation Area), yang akan menampung semua species tumbuhan buah, hias, bahan industri, bahan kerajinan, dan fitofarmaka – juga untuk catchment area, pendidikan, wisata, dan budi daya.
4. Hutan Bakau Muara Sungai Karajae, seluas sekitar 4-5 hektar, dengan fungsi utama sebagai Taman Muara (Estuary Park), untuk kepentingan pencegahan abrasi dan erosi, ground habits, wisata, pendidikan, dan budi daya.
5. Terumbu Karang Tonrangeng-Lumpue, seluas sekitar 50 hektar, dengan fungsi utama sebagai Taman Laut (Marine Park), untuk kepentingan penahan abrasi, ground habits, wisata bahari, pendidikan dan budi daya. Sebagai catatan, di kawasan ini telah diidentifikasi sebanyak 141 species karang (coral), dan sekitar 320 species ikan karang dan ikan target pencegahan abrasi dan erosi, ground habits, wisata, pendidikan, dan budi daya.
6. Terumbu Karang Tonrangeng-Lumpue, seluas sekitar 50 hektar, dengan fungsi utama sebagai Taman Laut (Marine Park), untuk kepentingan penahan abrasi, ground habits, wisata bahari, pendidikan dan budi daya. Sebagai catatan, di kawasan ini telah diidentifikasi sebanyak 141 species karang (coral), dan sekitar 320 species ikan karang dan ikan target
1. Hutan Kota Jompie, luas sekitar 15 hektar, dengan fungsi utama sekarang sebagai Kebun Raya (Botanical Garden), yang akan menampung sebanyak mungkin species tumbuhan dari bioregion Wallacea – untuk konservasi, pendidikan, wisata, dan sebagai bank plasma.
2. Hutan Alitta, sekitar 90 hektar, dengan fungsi utama sebagai Taman Hutan Raya (Grand Forest Park), yang akan menampung species tumbuhan lokal, spesifik, dan sangat penting sebagaicatchment area – juga untuk pendidikan, wisata, dan budi daya.
3. Hutan Bilalang dan Gua Tompangnge, seluas sekitar 200 hektar, dengan fungsi utama sebagai Hutan Konservasi Plasma Nutfah (Biodiverity Conservation Area), yang akan menampung semua species tumbuhan buah, hias, bahan industri, bahan kerajinan, dan fitofarmaka – juga untuk catchment area, pendidikan, wisata, dan budi daya.
4. Hutan Bakau Muara Sungai Karajae, seluas sekitar 4-5 hektar, dengan fungsi utama sebagai Taman Muara (Estuary Park), untuk kepentingan pencegahan abrasi dan erosi, ground habits, wisata, pendidikan, dan budi daya.
5. Terumbu Karang Tonrangeng-Lumpue, seluas sekitar 50 hektar, dengan fungsi utama sebagai Taman Laut (Marine Park), untuk kepentingan penahan abrasi, ground habits, wisata bahari, pendidikan dan budi daya. Sebagai catatan, di kawasan ini telah diidentifikasi sebanyak 141 species karang (coral), dan sekitar 320 species ikan karang dan ikan target pencegahan abrasi dan erosi, ground habits, wisata, pendidikan, dan budi daya.
6. Terumbu Karang Tonrangeng-Lumpue, seluas sekitar 50 hektar, dengan fungsi utama sebagai Taman Laut (Marine Park), untuk kepentingan penahan abrasi, ground habits, wisata bahari, pendidikan dan budi daya. Sebagai catatan, di kawasan ini telah diidentifikasi sebanyak 141 species karang (coral), dan sekitar 320 species ikan karang dan ikan target



